Wudel
Posted by hikaru354 on November 30, 2009
Oleh: Ust. Fami
Kalau ada orang yang trengginas, ringan tangan, semangat kerja luar biasa, maka orang sering bilang; ora duwe udel (Nggak punya tali pusat). Karena nggak kenal capek. Beraktivitas dan beraktivitas terus. Seolah tanpa perlu makan atau asupan energy. Yang ada hanya kerja dan kerja. Workaholic. Itu maksud ora duwe udel.
Setiap orang pasti punya udel. Bahkan bentuknya pun bermacam – macam. Ada yang bulat menonjol, ada yang cekung. Ada yang menghadap ke atas, ada yang menghadap ke bawah. Ada yang bodong, ada yang indah. Sampai – sampai pelawak favorit saya, yang suka banyol di tontonan seni tradisional ketoprak, juga bernama Bodong. Biasanya dia berpartner dengan Kecik. Maka terkenallah lawakan Kecik – Bodong ini. Kita suka berbondong – bonding nonton demi mendengar lawakan Kecik dan Bodong ini. Tapi rasanya sekarang sudah tidak ada. Sudah lama meninggal. Mungkin tinggal rekaman – rekamannya saja.
Bapak saya sering nyebutin orang pelit dengan jero udele (dalam pusatnya). Setiap anaknya tidak mau berbagi, maka dia selalu menggerutu, dasar udele jeru (dalem banget). Biasanya dalam hal makanan. Sekarang saya bisa pahami maksud perkataan itu. Biasanya anak yang gemuk, memang udelnya cenderung masuk ke dalam. Karena perut buncit, lembah udel bertambah dalam karena dagingnya nonjol ke depan, sehingga udel kelihatan kecil dan dalam. Dan orang gemuk cenderung makan banyak sehingga tidak suka berbagi, karena berarti ngurangi jatahnya. Yang jelas, udel perlu perawatan ekstra karena bentuknya. Udel suka dijadikan sembunyi yang namanya daki atau kotoran lainnya. Jadi sering – seringlah kalau mandi untuk menyempatkan membersihkannya. Kalau tidak, udel akan menjadi tumpukan daki dan bolot yang menambah kehitamannya. Kebersihan adalah sebagian dari iman.
Nah, dari pencermatan saya terhadap udel ini, seolah – olah saya mendapat pencerahan yang luar biasa. Ia bisa menjadi jalan pemahaman akan kuasa Allah. Bahwa apa yang diberikan kepada kita adalah merupakan pilihan terbaik. Sebab itu adalah pilihannya Allah. Setiap orang punya udel. Dan dengan udel itulah dulu setiap orang dapat suplai makanan, waktu berada di kandungan ibunya. Kurang lebih 9 bulan lamanya Allah memberikan rejeki lewat satu jalan. Tak ada jalan lain selain tali pusat atau udel itu. Berikutnya Allah memutus udel itu ketika jabang bayi lahir ke dunia, sehingga hilanglah jalan rejeki itu. Ia tidak tersambung lagi dengan ibunya. Tapi apa yang terjadi? Allah menggantinya dengan yang lebih baik yaitu dua puting susu ibunya. Hilang satu, Allah memberikan dua jalan. Bukankah ini pemberian yang terbaik? Itu adalah keputusan Allah. Dan selalu begitu. Jika Allah tidak menghendaki, maka bayi itu tidak dilahirkan ke dunia. Jadi keputusan dan hokum Allah adalah yang terbaik dan terbaik. Tidak salah. Jika belum bisa menemukannya teruslah berusaha. Sebab Allah Maha Benar.
“Demi Dzat yang diriku di Tangannya, Allah tidak menetapkan suatu ketetapan kepada seorang hamba kecuali jika itu lebih baik baginya. Hal demikian itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman.” (Rowahu Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya).
Manusia, seperti disifati Penciptanya, adalah makhluk yang dholim dan bodoh, innahu kaana dholuuman jahuulan (al-Ahzab 72), maka tidaklah benar jika yang dijadikan ukuran untuk menentukan baik dan buruk adalah apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya baginya, kecenderungan, kecintaan, ketakutan atau kemarahannya, tetapi ukuran yang paling pas adalah apa yang dipilihkan Allah baginya. Lewat udel kita belajar mengenalinya lebih dalam dan dalam lagi, untuk meraih manisnya iman. Karena betapa banyak yang masih belum kita pahami. Dan hanya karena pertolongan dan karunianya hikmah itu hadir di sini.









